Kamis, 07 November 2013

Jenis budaya politik di indonesia




Tipe-tipe budaya politik yang berkembang di Indonesia.

Ada tiga tipe-tipe budaya politik yang berkembang di Indonesia diantaranya :

1.         Budaya Politik Tradisional

Budaya politik tradisional adalah budaya politik yang mengedepankan satu budaya dari etnis tertentu yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, budaya politik yang berangkat dari paham masyarakat Jawa. Hal ini pernah terjadi ketika Soeharto memimpin negeri ini selama tiga dekade. Paham kekuasaan Jawa cukup mendominasi dari sistem pemerintahan yang dipimpinnya. Jumlah masyarakat dari etnis tertentu, dari Jawa misalnya, cukup mendominasi pusat-pusat kekuasaan penting seperti kekuasaan yang ada dalam tubuh ABRI (TNI).
Selain itu, budaya politik tradisional juga ditandai oleh hubungan yang bersifat patron-klien, seperti hubungan antara tuan dan pelayannya. Hubungan tersebut adalah hubungan antara yang lebih tinggi dan yang lebih rendah, bukan hubungan yang setara atau egaliter. Jarak hubungan diantara keduanya kadang terlalu jauh. Mereka yang menjadi tuan akan tetap menjadi tuan hingga anak-cucunya. Begitu pula mereka yang menjadi pelayan, akan tetap menjadi pelayan hingga anak-cucunya. Budaya politik semacam ini masih cukup kuat di beberapa daerah, khususnya dalam masyarakat etnis yang sangat konservatif. Masyarakat tradisional semacam ini biasanya berafiliasi pada partai-partai sekuler (bukan partai agama).

2.         Budaya politik Islam

Budaya politik islam adalah budaya politik yang lebih mendasarkan idenya pada satu keyakinan dan nilai agama tertentu, dalam hal ini tentu saja agama islam. Agama Islam di Indonesia menjadi agama mayoritas dan Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila islam menjadi salah satu budaya politik yang cukup mewarnai kebudayaan politik di Indonesia. Orientasi budaya politik yang mendasarkan pada nilai agama Islam mulai tampak sejak para pendiri bangsa membangun negeri ini.
Budaya politik islam biasanya dipelopori oleh satu kelompok masyarakat yang biasa disebut sebagai kelompok santri. Kelompok santri adalah kelompok masyarakat yang identik dengan pendidikan pesantren atau sekolah-sekolah islam. Kelompok masyarakat ini, dapat kita klasifikasi lagi menjadi dua, yaitu tradisional dan modern. Kelompok tradisional biasanya diwakili oleh masyarakat santri yang berasal dari organisasi NU atau Nahdlatul Ulama. Sementara yang modern biasanya diwakili oleh masyarakat santri yang berasal dari organisasi Muhammadiyah. Perbedaan karakter Islam ini juga turut melahirkan perbedaan pilihan politik. Ini membuat budaya politik islam menjadi tidak satu warna. Pada masa lalu, kelompok santri biasanya pada partai seperti Masyumi dan partai NU. Kedua partai ini memiliki basis pada kelompok masyarakat islam.

3.         Kelompok Politik Modern
Budaya politik modern adalah budaya politik yang mencoba meninggalkan karakter etnis tertentu atau pendasaran pada agama tertentu. Pada masa pemerintahan Orde Baru, dikembangkan budaya politik modern yang dimaksudkan untuk tidak mengedepankan budaya etnis atau agama tertentu. Pada masa pemerintahan ini ada 2 tujuan yang ingin dicapai, yakni stabilitas keamanan dan kemajuan. Seperti halnya budaya politik islam, budaya politik modern juga bersifat kuat dan berpengaruh. Di dalamnya terdapat beragam subkultur seperti kelompok birokrat, intelektual, dan militer. Hanya saja, kalau mau kita pertajam, hanya ada 2 kelompok (birokrat dan militer) yang paling berpengaruh dalam pembuatan kebijakan pada masa Orde Baru.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar