Jumat, 14 Desember 2012

Hasil-hasil kebudayaan zaman bercocok tanam



Perkembangan kebudayaan pada masa bercocok tanam makin bertambah pesat. Hal ini dikarenakan manusia mulai dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan kebudayaan yang lebih baik. Peninggalan-peninggalan kebudayaan manusia pada masa bercocok tanam makin banyak dan beragam, baik yang terbuat dari tanah liat, batu maupun logam.
Hasil-hasil kebudayaan manusia masyarakat zaman bercocok tanam adalah sebagai berikut

1.       Beliung persegi
Diantara peralatan batu yang paling menonjol dari masa bercocok tanam di Indonesia adalah beliung persegi. Beliung persegi bentuknya mirip cangkul, amun tidak sebesar dan selebar cangkul zaman sekarang. Beliung persegi digunakan untuk mengolah kayu, misalnya untuk membuat rumah dan perahu. Beliung persegi ditemukan hampir di seluruh wilayah kepulauan Indonesia., yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Adapun penemuannya diluar wilayah Indonesia yaitu di Semenanjung Melayu dan Asia Tenggara. Beliung persegi terbuat dari batu api.
2.       Kapak lonjong
Bentuk keseluruhan kapak lonjong adalah bulat telur dengan penampang lintang lonjong. Ujung yang agak lancip dikaitkan di tangkai, sedang diujung yang bulat diasah sampai tajam. Bahan yang digunakan untuk membuat kapak lonjong adalah batu kali yang warnanya kehitaman seperti kapak batu yang sampai sekarang masih digunakan sebagian suku di Papua. Kapak lonjong juga dapat dibuat dari jenis batu nefrit yang berwarna hijau tua yang diperoleh dari segumpal batu yang diserpih atau dari kerakal yang sudah sesuai bentuknya. Setelah permukaan batu itu diratakan, selanjutnya diasah samapi halus.
Kapak lonjong mempunyai ukuran yang berbeda-beda dan mempunyai fungsi yang bermacam-macam. Kapak lonjong kecil digunakan sebagai benda wasiat. Adapun kapak lonjong besar digunakan sebagai cangkul untuk menggarap lading/sawah dan sebagai kapak biasa. Diantara kapak-kapak lonjong itu ada juga yang hanya digunakan untuk keperluan upacara saja. Bahan batu kapak lonjong untuk keperluan upacara lebih bagus daripada bahan untuk kapak biasa. Cara pembuatannya juga jauh lebih halus. Daerah penemuan kapak lonjong di Indonesia hanya terbatas di kawasan Indonesia timur saja, seperti di Maluku, Irian, dan Sulawesi Utara. Adapun di daerah lain sampai sekarang tidak ditemukan.
3.       Mata panah
Mata panah merupakan salah satu dari perlengkapan berburu maupun menangkap ikan. Mata panah untuk menangkap ikan dibuat bergerigi seperti mata gergaji dan umumnya dibuat dari tulang. Sisi-sisi mata panah dari zaman kehidupan bercocok tanam berhasil ditemukan didalam gua-gua yang ada di pinggir sungai. Kemungkinan juga ada mata panah yang dibuat dari kayu seperti yang masih digunakan oleh penduduk asli Papua. Daerah yang banyak ditemukan mata panah ini adalah jawa timur dan Sulawesi selatan.
4.       Gerabah (Tembikar)
Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa alat-alat dari gerabah sudah mulai dibuat oleh manusia prasejarah sejak masa berladang. Namun pembuatannya masih sangat sederhana. Pada tahap kehidupan bercocok tanam di persawahan atau masa bercocok tanam tingkta lanjut, pembuatan gerabah mengalami kemajuan dan ragamnya pun bertambah banyak. Gerabah terbuat dari tanah liat yang dibakar. Pada umumnya gerabah dibuat untuk keperluan rumah tangga sehari-hari, misalnya sebagai tempat air, alat untuk masak, tempat menyimpan makanan dan lain-lain. disamping itu gerabah juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan perhiasan dan sebagai aksesoris untuk upacara keamanan dan ritual, misalnya untuk tempayan dan sebagai bekal kubur. Gerabah dihias dengan beragam hiasan. Menghias gerabah lebih muda dibandingkan dengan menghias benda-benda lainnya. Oleh karena itu, gerabah selalu menjadi alat untuk mencurahkan rasa seni, baik melalui hiasan atau melalui pemberian bentuk. Gerabah hampir ditemukan pada setiap rumah tangga diseluruh wilayah Indonesia. Para ahli sejarah sangat memperhatikan temuan-temuan gerabah, karena berbagai bentuk hiasan dapat memberi petunjuk tentang keadaan dan kehidupan dari masyarakat yang menghasilkannya.
5.       Perhiasan
Pada masa kehidupan bercocok tanam telah dikenal berbagai bentuk perhiasan. Bahan dasar pembuatan perhiasan diambil dari bahan-bahan yang ada dilingkungan sekitar dimana mereka tinggal. Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membuat perhiasan seperti tanah liat, batu kalsedon, batu agat, batu yaspur, yang berwarna kuning; putih; cokelat; merah;  serta kulit kerang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar