Jumat, 16 November 2012

Perbedaan pendapat antar golongan tua dan golongan muda



Berita tentang kekalahan Jepang diketahui oleh sebagian golongan muda melalui radio siaran luar negeri. Pada malam harinya, Sultan Syahrir menyampaikan berita itu kepada Moh. Hatta. Syahrir juga menanyakan mengenai kemerdekaan Indonesia sehubungan dengan peristiwa tersebut. Moh. Hatta berjanji akan menanyakan hal itu kepada Gunseikanbu. Setelah yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu, Moh. Hatta mengambil keputusan untuk segera mengundang anggota PPKI.

Selanjutnya golongan muda mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Rapat dilaksanakan paa tanggal 15 Agustus 1945, pukul 20:30 waktu Jawa. Rapat yang dipimpin oleh Chaerul Saleh itu menghasilkan keputusan “kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantungkan pada orang dan negara lain. segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diadakan perundingan dengan golongan muda agar mereka diikutsertakan dalam pernyataan proklamasi.

Keputusan rapat itu disampaikan oleh Wikana dan Darwis pada pukul 22:30 waktu Jawa kepada Ir. Soekarno di rumahnya, Jln. Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Kedua utusan itu segera menyampaikan keputusan golongan muda agar Ir. Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu hadiah dari Jepang. Tuntutan Wikana yang disertai ancaman bahwa akan terjadi pertumpahan darah jika Ir. Soekarno tidak menyatakan proklamasi keesokan harinya telah menimbulkan ketegangan. Ir. Soekarno marah dan berkata “ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu dan sudahilah nyawa saya mala mini juga, jangan menunggu sampai besok. Saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu saya tanyakan kepada wakil PPKI besok.” Ketegangan itu juga disaksikan oleh golongan tua lainnya, seperti Drs. Moh Hatta, Dr. Buntaran, Dr Samsi, Mr. Ahmad Subardjo, dan Iwa Kusumasumantri.

Dalam diskusi antara Darwis dan Wikana, Moh. Hatta berkata  “Dan kami pun tak dapat ditarik-tarik atau didesak supaya mesti juga mengumumkan proklamasi itu. kecuali jika saudara-saudara memang sudah siap dan sanggup memproklamasikan. Cobalah! Saya pun ingin melihat kesanggupan Saudara-saudara!” Utusan itu pun menjawab “Kalau begitu pendirian Saudara-saudara berdua, baiklah! Dan kami para pemuda-pemuda tidak dapat menanggung sesuatu jika besok siang proklamasi belum juga diumumkan. Kami pemuda-pemuda akan bertindak dan menunjukkan kesanggupan yang saudara kehendaki itu!”

3 komentar: